Ratusan
tahun yang silam, di Dataran Tinggi Dieng ada seorang putri cantik jelita nan
rupawan bernama Shinta Dewi. Ia tinggal di sebuah istana megah yang dikelilingi
taman bunga yang indah. Kecantikan Shinta Dewi mengundang decak kagum bagi
setiap pangeran yang melihatnya. Banyak pangeran yang sudah melamarnya, namun
tidak ada satu orang pun yang sanggup mendapatkannya karena Shinta Dewi meminta
mas kawin yang jumlahnya sangat banyak.
Suatu ketika, seorang pangeran yang
kaya-raya bernama Kidang Garungan bermaksud melamar Shinta Dewi. Sang Pangeran
merasa bahwa dengan harta kekayaannya, ia dapat memenuhi mas kawin yang diminta
oleh sang Putri. Maka, ia pun mengutus beberapa orang pengawalnya untuk
menyampaikan lamarannya kepada Shinta Dewi.
“Sampaikan lamaranku kepada Putri
Shinta Dewi,” titah Pangeran Kidang kepada para pengawalnya. “Katakan kepadanya
bahwa aku sanggup memenuhi berapa pun mas kawin yang dia minta.”
“Baik, Pangeran! Perintah Pangeran
segera hamba laksanakan,” jawab salah seorang utusan seraya berpamitan.
Setiba di kediaman Shinta Dewi, para
utusan Pangeran Kidang Garungan segera menyampaikan lamaran tuan mereka mereka
kepada sang Putri.
“Ampun, Tuan Putri! Kami adalah
utusan Pangeran Kidang Garungan. Kedatangan kami ke mari adalah untuk
menyampaikan lamaran beliau kepada Tuan Putri,” kata salah seorang utusan.
“Hai, utusan Pangeran Kidang! Berapa
banyak mas kawin yang disanggupi tuan kalian untuk melamarku?” tanya Putri
Shinta Dewi.
“Ampun, Tuan Putri! Pangeran kami
memiliki harta kekayaan yang melimpah. Berapa pun mas kawin yang Tuan Putri
minta, pangeran kami bersedia memenuhinya,” jawab utusan itu.
Mendengar keterangan itu, Putri
Shinta Dewi terdiam sejenak sambil membayangkan wajah Pangeran Kidang Garungan.
“Dia seorang pangeran yang kaya
raya. Aku yakin, pastilah ia tampan dan gagah perkasa,” pikirnya
Putri Shinta Dewi akhirnya menerima
lamaran Pangeran Kidang Garungan. Sementara itu, para utusan segera kembali
untuk menyampaikan berita gembira tersebut kepada sang Pangeran. Alangkah
senangnya hati Pangeran Kidang Garungan mendengar berita tersebut. Ia pun
segera memerintahkan para pejabat istana untuk mengadakan persiapan kunjungan
ke istana Putri Shinta Dewi dalam rangka membahas rencana pernikahannya.
“Wahai para pejabat istana, tolong
siapkan segala sesuatunya, termasuk mas kawin yang diminta oleh Putri Shinta
Dewi,” perintah Pangeran Kidang Garungan. “Besok pagi-pagi sekali, kita
berangkat bersama-sama menuju ke istana sang Putri.”
Mendengar perintah itu, para pejabat
dan seluruh isi istana tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ada yang
sibuk menyiapkan mas kawin berupa emas, intan, dan berlian. Sebagian yang lain
sibuk menyiapkan berbagai macam hadiah lainnya untuk sang Putri. Sementara itu,
beberapa pengawal menyiapkan kuda yang akan dikendarai oleh Pangeran Kidang
Garungan.
Keesokan harinya, Pangeran Kidang
Kidang Garungan bersama rombongannya pun berangkat ke istana Putri Shinta Dewi.
Setiba di sana, mereka disambut meriah oleh sang Putri dengan aneka hiburan.
Namun, ketika bertemu dengan Pangeran Kidang Garungan, sang Putri tersentak
kaget karena sang Pangeran ternyata bukanlah pria tampan seperti yang ada dalam
bayangannya.
“Oh, Tuhan. Mampuslah aku,” ucap
Putri Shinta Dewi, “Ternyata, pangeran itu bertubuh manusia tapi berkepala kidang!”
Putri Shinta Dewi merasa amat
kecewa. Namun, nasi telah menjadi bubur. Ia sudah terlanjur menerima lamaran
Pangeran Kidang Garungan. Sang Putri sudah berusaha ingin menerimanya, tapi
hatinya tetap menolak. Maka, ia pun berpikir keras untuk mencari jalan keluar
agar pernikahannya dengan pangeran berwajah kijang itu batal. Sebelum
pernikahan dilaksanakan, ia memberikan satu syarat yang amat berat kepada
Pangeran Kidang Garungan.
“Ketahuilah, Pangeran! Kami yang
tinggal di daerah ini amat kesulitan mendapatkan air untuk keperluan
sehari-hari. Maka itu, Dinda ingin dibuatkan sebuah sumur yang besar dan
dalam. Dinda tidak mau menikah dengan Kanda sebelum sumur itu selesai,“ pinta
Putri Shinta Dewi, “Tapi, pembuatan sumur itu harus dikerjakan sendiri oleh
Pangeran dalam waktu sehari.”
Dengan syarat yang berat itu, Putri
Shinta Dewi berpikir bahwa sang Pangeran tidak mungkin bisa memenuhinya
sehingga mereka pun batal menikah. Namun, di luar dugaannya, ternyata Pangeran
Kidang Garungan memiliki kesaktian yang tinggi.
“Baiklah, Dinda. Kanda siap memenuhi
syarat itu,” kata Pangeran Kidang Garungan.
Pada hari itu juga, sang Pangeran
membuat sumur di sebuah tempat sepi yang telah ditunjuk oleh sang Putri. Dengan
kesaktiannya, ia menggali tanah itu dengan tangannya sedikit demi sedikit.
Sesekali ia menggunakan tanduknya untuk menggali tanah yang keras. Ia bekerja
dengan cepat dan tanpa mengenal lelah. Ketika sumur itu hampir selesai, sang
Putri pun mulai panik.
“Pangeran Kidang Gurangan ternyata
sakti. Bagaimana jadinya jika ia benar-benar dapat menyelesaikan sumur itu?”
gumam sang Putri, “Ah, tidak. Aku tidak mau menikah dengannya. Aku tidak
akan membiarkan dia menyelesaikan sumur itu.”
Putri Shinta Dewi pun segera
memerintahkan para pengawal dan dayang-dayangnya untuk menimbun sumur itu.
Pangeran Kidang Garungan yang berada di dalamnya tidak sadar jika dirinya telah
ditipu. Ia baru menyadari hal itu setelah kerukan-kerukan tanah menimpa
dirinya. Ia pun berteriak agar sang Putri berhenti menimbun dirinya di dalam
sumur itu.
“Putri, hentikan! Hentikan...!”
teriaknya.
Semakin keras sang Pangeran
berteriak, semakin cepat pula para pengawal dan dayang-dayang itu menimbuninya.
Ketika seluruh tubuhnya telah tertimbun tanah, pangeran itu segera mengerahkan
kesaktiannya agar bisa keluar. Tak ayal, sumur itu meledak sehingga tanah
berhamburan keluar. Ketika ia ingin keluar, sumur itu terus ditumbuni.
Akhirnya, Pangeran Kidang Garungan pun tewas tertimbun tanah di dalam sumur
itu. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ia bersumpah bahwa seluruh keturunan
Shinta Dewi akan berambut gembel. Sementara itu, sumur yang meledak itu
lama-kelamaan menjadi kawah yang dan diberi nama Kawah Sikadang.